dilema narapidana

mengapa saling percaya lebih menguntungkan daripada saling menjatuhkan

dilema narapidana
I

Mari kita bayangkan sebuah skenario menegangkan. Kita dan seorang sahabat tiba-tiba ditangkap polisi. Kita dituduh melakukan kejahatan besar, namun polisi tidak punya cukup bukti. Kita lalu dimasukkan ke dalam ruang interogasi yang terpisah. Detektif yang cerdik masuk dan memberikan tawaran yang sama kepada kita berdua. Jika kita bersedia bersaksi memberatkan sahabat kita, dan sahabat kita tetap bungkam, kita bebas dan dia dipenjara sepuluh tahun. Jika kita berdua saling diam, kita hanya dipenjara satu tahun. Tapi, jika kita berdua saling mengkhianati, kita berdua akan dipenjara masing-masing lima tahun.

Dalam kesendirian ruang interogasi itu, otak kita mulai berhitung dengan cepat. Apakah sahabat kita bisa dipercaya? Bagaimana kalau dia berkhianat demi kebebasannya sendiri? Insting bertahan hidup mulai membisikkan rasa curiga. Skenario ini bukan sekadar adegan film detektif murahan. Ini adalah sebuah realitas matematis dan psikologis yang diam-diam kita mainkan setiap hari.

II

Eksperimen pikiran yang baru saja kita bayangkan itu sangat terkenal di dunia sains. Namanya adalah Prisoner's Dilemma atau Dilema Narapidana. Konsep ini pertama kali dirumuskan pada tahun 1950 oleh dua ilmuwan cerdas, Merrill Flood dan Melvin Dresher. Teori ini kemudian menjadi salah satu fondasi terpenting dalam Game Theory atau Teori Permainan.

Secara hitung-hitungan logika murni, pilihan yang paling rasional bagi seorang individu dalam situasi tersebut adalah mengkhianati rekannya. Mengapa? Karena kita takut menjadi pihak yang paling dirugikan jika kita percaya, namun ternyata ditusuk dari belakang. Namun, rumusnya menjadi rumit ketika kita dihadapkan pada satu pertanyaan kritis. Kalau kita semua selalu memilih jalan yang paling egois demi mengamankan diri sendiri, apakah pada akhirnya kita benar-benar menang? Pertanyaan inilah yang membuat para ahli matematika, psikolog, hingga ahli biologi evolusioner berdebat sengit selama puluhan tahun.

III

Sekarang, mari kita bawa teori ini ke dunia nyata di sekitar kita. Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa kemacetan parah sering terjadi hanya karena satu atau dua mobil saling serobot di persimpangan? Atau dalam sebuah tim kerja, mengapa ada saja orang yang diam-diam menjelekkan rekan kerjanya demi mendapatkan promosi?

Di atas kertas, bersikap manipulatif dan egois memang tampak sebagai jalan pintas yang menguntungkan. Tapi pada awal tahun 1980-an, seorang ilmuwan politik bernama Robert Axelrod melakukan sebuah eksperimen komputer yang gila. Dia mengundang para ilmuwan dan jenius matematika dari seluruh dunia untuk memasukkan kode strategi ke dalam sebuah turnamen Prisoner's Dilemma virtual.

Ratusan algoritma bertarung ribuan kali. Ada strategi komputer yang dirancang sangat kejam, licik, dan tidak kenal ampun. Ada juga strategi yang sangat naif, pasrah, dan selalu mengalah. Dari semua baris kode yang rumit dan strategi yang sangat canggih itu, tahukah teman-teman strategi seperti apa yang akhirnya keluar sebagai juara mutlak? Jawabannya akan mengubah cara pandang kita tentang konflik selamanya.

IV

Pemenang dari turnamen legendaris itu adalah program komputer paling sederhana yang diberi nama Tit for Tat. Program ini hanya terdiri dari beberapa baris kode dengan dua aturan yang sangat jelas. Aturan pertama, ia selalu memulai pertemuan dengan bekerja sama atau memberikan kepercayaan. Aturan kedua, pada langkah berikutnya, ia hanya akan meniru persis apa yang dilakukan lawan sebelumnya.

Kalau lawannya berkhianat, ia akan langsung membalas dengan pengkhianatan di babak selanjutnya. Namun, kalau lawannya sadar dan kembali bekerja sama, ia akan langsung memaafkan dan kembali bekerja sama. Di sinilah letak keindahan sainsnya. Tit for Tat secara matematis membuktikan bahwa strategi paling menguntungkan bukanlah menjadi orang suci yang rela terus-terusan diinjak, bukan pula menjadi sosiopat yang selalu menusuk dari belakang.

Kunci kemenangan absolut justru terletak pada niat baik di awal, ketegasan untuk membela diri saat diserang, dan yang terpenting, keberanian untuk memaafkan. Sains dan matematika dengan sangat elegan membuktikan bahwa dalam jangka panjang, kolaborasi dan rasa saling percaya akan selalu mengalahkan egoisme murni.

V

Ini adalah sebuah penemuan yang sangat menghangatkan hati dari dunia hard science. Kita bisa membawa prinsip ini ke dalam manajemen konflik di kehidupan kita sehari-hari. Saat kita berada di kantor, di lingkungan pertemanan, atau bahkan dalam hubungan romantis, kita sebenarnya sedang bermain Prisoner's Dilemma berkali-kali.

Memilih untuk percaya kepada orang lain memang menakutkan. Selalu ada risiko kita dimanfaatkan atau dikecewakan. Tapi sains telah menunjukkan kepada kita, saling percaya dan menjaga hubungan baik pada akhirnya akan membawa keuntungan kolektif yang jauh lebih masif daripada saling menjatuhkan.

Jadi, mulai sekarang, saat kita dihadapkan pada dilema untuk menang sendiri atau menang bersama, mari kita ingat eksperimen sederhana tadi. Jadilah seperti algoritma pemenang itu. Berikan kepercayaan lebih dulu, tegaskan batasan saat kita dikhianati, dan jangan pernah ragu untuk kembali memaafkan. Karena pada akhirnya, peradaban ini tidak dibangun oleh siapa yang paling kuat bertahan sendirian, melainkan seberapa tangguh kita bersedia melangkah bersama-sama.